Dirang, riang riang
Dirang telah hilang
permata itu lenyap melayang
tinggalkan sayang
tinggalkan ruang gelombang
dodot kenangan.
Kebenciankah mulanya
kemarahankah akarnya
dendam hitamkah titiknya,
lingkar beralas sayang
bertingkah merah lidah
ibu dan ayah pelindungkah
jika abu Dirang itu penyudah.
Perpisahan mana pilihan
ibu dan ayah
kakak, adik dan abang
nyawa dan badan
atau badai kasihan
noktah kekeluargaan.
Jangan tangisi lagi
Ladang Nusa Damai mendamaikan
Jangan tangisi lagi
Dirang senang di sini
Bunda...tenangkan hati
Ayah...jangan Dirang dibenci.
Pesan si Dirang riang
belailah dirang-dirang yang tinggal
amanah dan pertanggungjawaban
kencana kilauan jiwa
kedewasaannya tiang seri negara,
Dirang yang hilang
sejarah kenangan
Jangan tangisi lagi, teman.
Dirang
bertemukah bunda menitip usia
Dirang
sambutlah salam bunda
tanda cinta bernyawa
kerna namamu tergaul antara tanah dan darah ini.
Bunda mencintaimu
penderitaanmu memahat kesedihan
kesedihan tidak bernoktah
maafkan bunda
maafkan bunda
maafkan bunda,
terlambat menghulur tangan
terlewat menitis penawar
teralpa berpesan-pesan,
Masih adakah ruang buat kita menyepuh sayang?
Luahan jiwa seorang ibu yang juga pernah kehilangan permata tercinta pada tanggal 13 Mac 2012...Namun kehilangan Dirang amat tragis dan tidak dapat dilakarkan dengan airmata seorang ibu. Membakar semut pun hatiku amat sayu inikan pula melihat permata jiwa dibakar derita.
No comments:
Post a Comment